Bermanfaat untuk lingkungan sekitar.
Begitulah gambaran sosok mahasiswa IKIP PGRI Semarang bernama lengkap Anugrah
Cahyo Hudi. Cahyo, panggilan akrab dari pasangan Titut
Asnan Hudi dan Listiyani ini sangat aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan
intra maupun ekstra kampus. Kegemarannya bersosialisasi ini membuatnya dikenali
tidak hanya oleh mahasiswa tingkat berapapun di jurusan Pendidikan Bahasa
Inggris, tetapi juga para dosen yang mengajarnya. Karena dinilai aktif, pria
yang bertempat tinggal di Bandungan-Semarang ini didaulat oleh dosen untuk
membantu terselenggaranya Seminar Internasional dengan tema “Language
Teaching and Character Building” pada 3-5 November 2011 lalu. Di dalam acara
yang dihadiri oleh delegasi berbagai Negara ini, dia terpilih menjadi moderator
setelah melewati berbagai macam seleksi yang diberikan oleh para dosen.
Pengalaman yang tidak semua orang bisa merasakannya ini ia tempuh setelah
mendapat “penggodokan” dengan diwajibkannya menggunakan bahasa Inggris sebagai
bahasa sehari-hari selama 3 hari. Selain mendapat teman dari bermacam-macam
adat istiadat yang berbeda, mahasiswa yang aktif dalam
UKM Paduan Suara, HIMA PBI (EDSA), dan English Debate Community ini juga
mendapat wawasan baru mengenai informasi-informasi pendidikan yang ada di dunia
luar. Menurutnya, modal yang didapatnya ini sangat bermanfaat untuk setiap
calon guru agar dapat profesional dalam menjalankan profesinya. Penyuka pisang
goreng ini menambahkan selain kaya akan wawasan, seorang guru yang berkualitas
diharuskan bisa menjadi panutan anak didiknya. Dimana setiap perilaku dan
ucapan guru terekam baik dalam ingatan siswa. Oleh karena itu, peningkatan
kesejahteraan guru saat ini diharapkan mampu menunjang profesionalitas kinerja
para guru dalam mendidik anak bangsa.
Meskipun
mempunyai kesibukan dan tugas kuliah yang tidak sedikit, putra pertama dari dua
bersaudara ini mampu membagi waktunya untuk mengajar les privat demi membantu
orang tuanya. Komitmen dan semangatnya untuk mandiri ini sangat jarang
ditemukan lagi pada mahasiswa kebanyakan. Sementara remaja seusianya lebih
sering membuang-buang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, Cahyo selalu
mengisi waktunya untuk kegiatan-kegiatan eksternal maupun internal kampus. Tak
jarang ia memanfaatkan waktunya untuk mencari informasi beasiswa baik di dalam
maupun luar negeri.
Di usianya yang terbilang muda, pemilik suara
merdu ini mampu bersaing dalam era globalisasi tanpa meninggalkan budaya dan
karakter bangsa Indonesia. Terbukti ia berhasil menyabet Juara I dalam lomba
Group Paduan Suara IKIP PGRI Semarang, serta masuk dalam 5 besar dalam
pemilihan Prince and Princess English 2011. Kefasihannya berkomunikasi
menggunakan bahasa Inggris menjadikannya dikenal oleh setiap dosen yang
mengampu mata kuliahnya. “Jangan pantang menyerah jika gagal, selalu berani
mencoba hal baru, selalu optimis untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dan
jangan pernah melupakan jasa ibu kita” ungkap remaja kelahiran Kab. Semarang, 4
April 1992 ini ketika menyampaikan kiat-kiatnya dalam meraih prestasi. Ibu
adalah inspirator serta motivator terbesarnya selama ini, karena jasa ibu
baginya tidak akan habis bila diungkapkan, serta kasih sayang seorang ibu tidak
akan pernah usai jika dijabarkan. Sehingga Ia bertekad untuk menyelesaikan
kuliah secepatnya dengan predikat cumlaud, dan akan mempersembahkannya untuk
ibunda tercinta.
Published in Derap Guru Magazine on March 2012 by Shabrina










0 komentar:
Posting Komentar